oleh

Warga di Mamasa Ditolak 2 Kali Hingga Karantina di Gubuk Sawah

2enam.com, Mamasa : Paulus Genggong (38) warga Desa Satanetean, Kecamatan Sesenapadang, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat berserta istri dan dua anaknya terpaksa harus menjalani karantina mandiri di gubuk tengah sawah karena mengalami penolakan oleh warga.

Paulus beserta keluarga selama beberapa tahun terakhir mencari nafkah di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, ia merupakan seorang pedagang keliling, sementara istrinya bekerja disalah satu rumah makan. Namun, karena pandemi Covid-19 mereka tak lagi bisa bekerja, penghasilan pun tak ada.

“Kami memilih pulang kampung karena sudah tidak bisa kerja, sementara kita tinggal di rumah kontrakan yang harus kami bayar,” kata Paulus saat ditemui di gubuk tempat ia menjalani karantina, Senin (27/04/2020).

Paulus bercerita, ia mudik ke Mamasa pada 24 April yang lalu, saat tiba ia sudah merencanakan untuk melakukan karantina mandiri di sebuah rumah milik kerabat istrinya yang terletak di Desa Osango, Kecamatan Mamasa. Namun mereka mendapatkan penolakan dari warga setempat.

“Kami ditolak karena warga khawatir, kami sudah terpapar virus Corona. Saya bukan warga disitu, tapi istri saya, jadi kami menerima,” ujar Paulus.

Karena mengalami penolakan, Paulus pun menghubungi keluarganya di Desa Satanetaan untuk dapat menjalani karantina disana. Pemerintah desa pun sudah menyiapkan tempat karantina bagi mereka. Lagi-lagi, warga disekitar tempat itu menolak Paulus beserta keluarganya untuk karantina disana.

“Pak desa sudah menyiapkan tempat isolasi yang layak, sebuah rumah di kompleks perumahan guru. Namun, warga tidak setuju,” tutur Paulus.

Karena terus ditolak warga, Pemerintah Desa Satanetean memberikan alternatif bagi paulus beserta keluarga untuk karantina mandiri di sebuah gubuk yang ada di tengah sawah. Tempat agak jauh dari pemukiman penduduk, tempat itu dinilai aman bagi Paulus dan keluarga menjalani karantina.

“Karena tidak ada tempat lain lagi, kami memilih karantina di pondok sawah. Saya ikhlas karantina disini demi kebaikan kita bersama,” ujar Paulus.

Sejak menjalani karantina di tempat itu, Paulus beserta keluarga kerap mendapatkan bantuan pangan dari keluarga maupun warga sekitar. Bahkan mereka mendapatkan bantuan sembako dari Polsek Mamasa pada Munggu 26 April kemarin.

“Bantuan yang disalurkan merupakan hasil swadaya dari personel Polsek Mamasa. Ini juga sesuai arahan pimpinan dalam rangka berbagi di bulan suci Ramadhan di tengah pandemi Covid-19,” ungkap Kanit Intelkam Polsek Mamasa Bripka Frans Patrick.

(74b)

Komentar