oleh

Tiga Warganya Positif, Satu Desa di Sulbar Terisolasi

2enam.com, Mateng : Klaster Covid-19 muncul di Desa Pontanakayyang, Kecamatan Budong-budong, Mamuju Tengah. Sudah tiga warga warga dinyatakan positif Covid-19 hasil tes swab dari data gugus tugas per Rabu, 15 April.

Klaster ini muncul berawal dari satu pasien PDP Covid-19 dari desa tersebut meninggal Jumat, 3 April lalu. Sepekan kemudian hasil tes swab-nya keluar dan dinyatakan pasien 03 positif Covid-19.

Sontak Gugus Tugas Penanganan Covid Sulbar bergerak cepat dengan mengambil sampel swab 20 orang yang memiliki riwayat kontak dengan pasien meninggal. Hasilnya dua orang dinyatakan positif.

“Pasien 06 Y, perempuan usia 31 tahun dan pasien 07, Nu (perempuan 49 tahun) penduduk desa Pontanakayyang, Mamuju Tengah. Keduanya tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19 dalam 14 hari sebelum sakit. Namun Pasien memiliki kontak erat dengan pasien 03,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Sulbar, Safaruddin, Rabu, 15 April.

Gugus Tugas Pencegahan Kabupaten Mateng juga sudah bergerak ke desa tersebut melakukan penyisiran dengan Rapid Diagnostic Test (RDT) atau rapid test selama dua hari terakhir, 14-15 April. Dari 38 orang yang dites, sebanyak 16 warga Pontanakayyang lainnya positif.

“Setelah dilakukan pengambilan sampel rapid test pada Selasa 14 April kemarin, sebanyak 16 orang rapid testnya reaktif dari jumlah warga yang diperiksa 38 orang,” kata Ketua Gugus Tugas Covid-19 Mateng, Rahmat Syam.

Dari 16 orang itu, kata dia, akan ditindaklanjuti pengambilan sampel swabnya untuk diperiksa lebih lanjut. “Jadi 16 orang yang hasilnya reaktif itu, belum tentu akan terpapar positif virus corona. Baru sebatas pengambilan sampel rapid test itu sebagai gejala atau deteksi awal adanya virus,” katanya

“Nah yang menetukan positif atau negatif adalah pemeriksaan sampel swab, yaitu mengambil lendir pasien di tenggorokan,” papar Rahmat.

Selanjutnya, kata dia, akan ditingkatkan perhatian pada 16 orang itu. Rencananya akan dikarantina di puskesmas Salogatta. Sejak pagi, Kamis, 15 April, pihaknya sudah mulai mempersiapkan segala kebutuhan sarana prasaran untuk pelaksanaan karantina.

“Jadi masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan, mari bersama-sama berdoa dan saling bahu membahu untuk memerangi virus corona itu,” pungkasnya.

Merasa Dikucilkan

Pemuda setempat, Irfan mengatakan kini warga Pontanakayyang terisolasi. Bahkan terkesan dikucilkan oleh warga desa tetangganya. “Sebenarnya kondisi di dalam masih tenang. Tetapi yang jadi kendala, masyarakat luar (tetangga desa) yang terlalu berlebihan terhadap desa kami. Seolah-olah desa kami penuh dengan virus,” kata dia.

Fenomena itu berdampak terhadap kondisi psikologis warga. Termasuk kebutuhan pangan warga. “Dampaknya banyak, penjual ikan dan sayur saja tidak ada yang masuk. Desa tetangga bahkan menolak warga desa kami masuk ke desanya. Kami sudah khawatir jika dibiarkan kondisi kesehatan masyarakat bisa memburuk,” katanya.

Bahkan, warga setempat yang ingin mengisi bensin eceran di desa lain tidak dilayani. Terakhir, warga Pantonakayyang yang ke Mamuju hendak mengurus restruk kredit diusir ketua RT.

“Baru satu jam duduk sudah ditahu Pak RT bahwa orang Pantonakayyang, jadi disuruh pulang secepatnya. Padahal dia bukan ODP, tidak pernah kontak dengan ODP, PDP apalagi positif. Jangan sampai perilaku seperti ini muncul masalah sosial baru,” katanya.

Olehnya itu dia mulai berinisiasi menggalang donatur untuk mendatangkan bantuan ke desanya. Bersama pemuda lainnya, dia membentuk relawan 1000 cinta untuk Pantonakayyang.

(4r)

Komentar