oleh

Susun Strategi Agar Terhindar Dari Klaster Sekolah

2enam,com, Mamuju : Kegiatan belajar mengajar tidak mudah dilakukan di tengah pandemi seperti ini. Perlu kedisiplinan dan kehati-hatian agar tidak terjadi penularan Covid-19 di sekolah.

Pemkab Mamuju telah memberikan lampu hijau kepada sekolah untuk melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Asalkan, menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Jika tidak, Satgas Covid-19 tak segan menegur pihak sekolah. Hal itu dilakukan agar tenaga pendidik dan siswa tidak tertular virus korona tersebut.

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Mamuju juga bahkan melaksanakan simulasi penanganan Covid 19 di sekolah. Langkah itu dilakukan sebagai cara Mamuju cegah kluster di sekolah.

Bahkan, sebelum memberikan lampu hijau kepada sekolah untuk melaksanakan PTM, Pemkab Mamuju menyusun kurikulum darurat yang pertama diterapkan di Indonesia. Pemkab Mamuju juga menunjukkan kesiapsiagaan dalam mencegah penyebaran virus korona dengan menyusun skema agar tidak terjadi learning loss.

“Untuk mencegah dan mengatasi bencana apa pun termasuk Covid di sekolah kami telah melakukan upaya-upaya, misalnya saja pelatihan kebencanaan dan pendampingan kajian resiko bencana di sekolah, menyusun strategi daerah mengatasi learning loss, membuat kurikulum darurat revisi satuan pendidikan dan membentuk tim siaga bencana disekolah serta menyusun prosedur tetap (protap) kedaruratan bencana termasuk protap PTM terbatas,” kata Ketua Harian Sekber SPAB, Haedar Harun.

Haedar menambahkan, untuk memperkuat implementasi program SPAB dan dampak bencana lainya terhadap Pendidikan, telah dibuat dokumen dan rencana aksi sekolah dalam pengurangan risiko dan kesiapsiagaan bencana. Apalagi, dalam bebrapa pekan terakhir ini banyak pemberitaan yang menyatakan pelaksanaan PTM terbatas telah banyak menimbulkan klaster Covid 19.

Maka untuk menjawab kekhawatiran masyarakat akan terjadinya hal tersebut, maka Sekber SPAB Mamuju, pada Selasa 28 September, menyelenggarakan Simulasi penanganan Covid 19 saat PTM terbatas berlangsung di tiga sekolah, yaitu di SD Inpres Karema, SD 2
Karema dan SD Rimuku.

Terpisah, Anggota Sekber SPAB dari unsur akademisi Universitas Tomakaka, Dr Sulaiman Todu, mengatakan, simulasi ini sesungguhnya adalah bagian dari monev sekber SPAB untuk melihat tingkat kesiapan siagaan sekolah dalam menghadapi bencana.

“Khususnya bencana pandemi Covid agar protap kedaruratanya bisa terus diperbaharui sehingga resiko penularannya bisa diturunkan,” jelasnya.

Kegiatan simulasi tersebut melibatkan tim Public Safety Center 119 (PSC 119) yang berada di bawah naungan Dinas Kesehatan Mamuju. Lembaga yang bertugas menyelenggarakan penanggulangan gawat darurat terpadu ini, berkolaborasi dengan Disdikpora dalam penangangan kedaruratan di sekolah.

Kabid Sumber Daya Kesehatan, Dinas kesehatan Mamuju Dewi Sundari menyebutkan, sangat mendukung sekali kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan ini adalah bagian dari upaya kolaborasi dan sinergi antara Dinas Kesehatan dan Disdikpora Mamuju.

“Tujuannya agar sekolah bisa sesegera mungkin melakukan langkah penanganan cepat dan terukur dalam kondisi darurat,” ujarnya.

Bupati Mamuju, Sitti Sutinah Suhardi menyampaikan bahwa program kebencanaan daerah merupakan komitmentnya untuk meningkatkan indeks ketahanan daerah dalam menghadapi bencana. Di sektor Pendidikan, sebagai bentuk komitmentnya Sutinah telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan pendukungnya,

“Ini bagian komitmen daerah dalam meningkatkan indeks kemampuan dan ketahanan dalam menghadapi bencana. Untuk Pendidikan saya sudah bentuk Sekber SPAB dan memberikan dukungan anggaran agar program programnya berjalan,” kata Bupati.

Untuk menjamin kesinambungan program ini baik di sekolah maupun di desa, Pemda Mamuju telah mengintegrasikanya ke dalam rencana pembangunan daerah 2021-2026. Untuk tahun 2021 ini, agar pelaksanaan program SPAB lebih maksimal Pemda Mamuju bekerja sama dengan NGO.

“Agar dapat menurunkan nilai resiko bencana maka kita harus menurunkan kerentanan dan meningkatkan kapasitas warga sekolah dalam menghadapi bencana disekolah, untuk kami menggandeng NGO Save the Children,” tutup Sutinah.

m4r10

Komentar