oleh

SJP Mamuju Santuni 128 Warga Miskin di Mamuju

2enam.com, Mamuju : Sedekah Jumat Pekanan (SJP) Mamuju salurkan 128 paket sembako bagi warga miskin, di pelataran Masjid Suada, Kelurahan Binanga, Mamuju, Jumat 1 Maret.

Menurut Ketua SJP Mamuju, Ike Sofian Wulandari, setiap Jumat, organisasinya membagikan makanan ke warga miskin. Di momentum milad SJP, mereka memberi lebih. Diberikan santunan berupa mie instant, beras, minyak, susu, teh, kopi dan gula.

“Hari ini ada sekira 80 saudara-saudara kita yang datang. Warga lain berhalangan. Bagi yang tak datang, santunannya akan kami bawa langsung ke rumahnya,” kata Ike, Sabtu 2 Maret.

SJP Mamuju Santuni 128 Warga Miskin di Mamuju

Sembako diberikan secara cuma-cuma. Tapi hanya menyasar pemulung, tukang becak, sahabat kusta dan kaum duafa. Memastikan santunan tepat sasaran, personel SJP menyambangi rumah warga. Termasuk berinteraksi di tepi jalan untuk inventarisasi data.

“Kami berikan kupon. Lalu saudara-saudara kami menukarnya dengan sembako. Jadi pilihan sebab sembako jadi kebutuhan pokok. Paling tidak bisa meringankan beban mereka beberapa hari ke depan,” sebutnya.

Ike berharap, kegiatan serupa masif dilaksanakan SJP Mamuju. Menyirat banyak dampak positif. Tak hanya menyantuni, tapi jadi ajang silaturrahmi. Sekaligus memberikan sedikit bantuan bagi warga.

“Kami berharap bagi warga lain bercukulan untuk masif berbagi. Menjadikan sedekah sebagai kebutuhan. Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama,” tandas Ike.

SJP Mamuju Santuni 128 Warga Miskin di Mamuju

Salah seorang penerima santunan, Muhammad Rasapa mengaku bersyukur mendapat bantuan. Menurutnya, jarang pemberi bantuan menyasar warga langsung. Apalagi bantuannya tepat sasaran.

“Saya sangat berterima kasih. Sangat membantu kami. Seharusnya kalau ada bantuan, seperti ini caranya. Supaya yang menerima, benar-benar orang yang patut dibantu,” terang lelaki berprofesi tukang becak itu.

Warga lain, Sitti Hadaria mengungkapkan, meski bantuan itu sederhana, ia sangat bersyukur. Apalagi berjenis sembako. Sangat dibutuhkan keluarga. Apalagi suaminya hanya sebagai pemulung. Penghasilan per bulan tak menentu.

“Sekecil apapun bantuan ini, sangat kami hargai. Apalagi sasarannya warga miskin. Ternyata masih ada yang peduli dengan kami,” pungkas Hadaria. (Saharuddin Nasrun/red*).

Komentar