oleh

Nelayan Mamuju Menaruh Harapan Pada Pemerintahan Tina Ado

2enam.com. Mamuju : Bupati Mamuju, Hj. Sitti Sutinah Suhardi, SH., M.Si mengunjungi Koperasi Nelayan Mitra Kayu Langka yang terletak di Kompleks Tempat Pelelangan Ikan Mamuju. Kunjungan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 13 Juni 2021.

Didampingi Ketua Koperasi Nelayan Mitra Kayu Langka, Bupati Mamuju meninjau bangunan dan fasilitas koperasi yang dilaporkan mangkrak.

Sejak gempa bumi melanda Mamuju Januari lalu, koperasi tersebut tidak lagi menjalankan fungsinya menyalurkan bahan bakar solar bersubsidi untuk nelayan. Beberapa alat milik Koperasi Mitra Kayu Langka dilaporkan rusak, seperti tangki dan  mesin. Kerusakan  ini selain karena gempa, juga karena faktor usia, demikian keterangan Rhases, ketua Koperasi Mitra Kayu Langka Mamuju.

“Kami menaruh harapan besar kepada pemerintahan yang baru ini, bahwa kami masyarakat nelayan akan diberi lebih banyak perhatian. Menurut statistik, ada 33% masyarakat Sulbar yang menggantungkan hidup dari laut. Jadi sebisanya, kami meminta bantuan, agar koperasi bisa kembali berjalan menyuplai solar bersubsidi untuk teman-teman nelayan,” lanjut Rhases.

Koperasi Mitra Kayu Langka sendiri berdiri sejak tahun 2007, dengan fokus usaha unit Solar Pack Dealer Nelayan (SPDN) di bawah BUMN Pertamina. Sejak koperasi mandeg, nelayan Mamuju dikabarkan  terpaksa menyuplai solar dari pengecer. Hal ini merugikan nelayan, karna harga yang dipatok pengecer lebih mahal daripada harga resmi di SPBU. Di lain sisi, pembelian solar bersubsidi lewat SPBU harus menyertakan surat rekomendasi dari Dinas Perikanan, yang mana pengurusannya dilaporkan cukup rumit.

Harga resmi solar bersubsidi adalah Rp.5.150,- sementara harga lewat pengecer berkisar hingga Rp. 6.000,-.

Ketika ditemui, Bupati Mamuju Hj. Sitti Sutinah Suhardi, SH., M. Si menyatakan optimis masalah ini dapat diatasi. “Suara hati teman-teman nelayan akan kami tampung dan jembatani ke dinas terkait. Kasihan mereka kesulitan mendapatkan solar kalau terus-terusan begini,” tutup Sutinah.

(Diskominfosandi/RF).

Komentar