oleh

Merawat Lansia di Tengah Bonus Demografi

2enam.com, Jakarta :  Selama kurun waktu hampir lima dekade (1971-2019), persentase penduduk lansia Indonesia meningkat sekitar dua kali lipat. Jumlah lansia pada tahun 2019 telah mencapai 25,64 juta orang atau 9,60 persen dari total populasi di Indonesia. Angka ini menunjukkan Indonesia tengah bertansisi menuju ke arah penuaan penduduk. Piramida penduduk menunjukkan perempuan lansia kelompok usia 70-74 dan 75 tahun ke atas berjumlah lebih banyak dari laki-laki. Dimungkinkan ada dari mereka yang menjadi kepala rumah tangga menggantikan suaminya.

Hal ini disampaikan Kepala BKKBN DR. (H.C) dr Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) pada Webinar lansia Sehat Lansia Tangguh: Mencegah dan Menangani Demensia yang digelar oleh Antara Jateng, Sabtu (28/8) pagi.

Saat ini, masih banyak Lansia yang menjadi ‘beban’ dalam keluarganya karena kondisi kesehatan dan ekonomi yang dialaminya. BKKBN memiliki program menjadikan lansia yang sehat dan punya modal sehingga bisa menginvestasikan kemampuan dan uangnya untuk kepentingan ekonomi produktif. “Meski demikian ada kondisi-kondisi lain seperti lansia yang sehat namun tidak kuat secara ekonomi, sehingga diharapkan masih bisa dibina untuk mendapatkan pekerjaan yang ringan yang dapat menopang ekonominya. Ada pula lansia yang tidak sehat namun ekonominya mampu, yang mana dapat mendorong anak cucunya untuk melakukan usaha produktif selain juga beramal jariyah. Sedangkan untuk yang tidak sehat dan tidak mampu ekonominya maka problemnya adalah charity,” tegas Dokter Hasto. Delapan fungsi keluarga masih menjadi hal yang relevan dalam merawat orang tua kita dengan baik.

“Saya berharap perhatian kepada para lansia ini karena ada tadi yang ekonominya lemah kalau kondisi sosial tidak bagus maka mudah untuk mendapatkan gangguan psikologi”, kata Dokter Hasto lagi. Jepang, menurut Dokter Hasto tengah gelisah karena untuk membangun era industrialisasi 5. 0 nantinya kembali mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan termasuk para sesepuh yang bisa ditransformasikan.

“Siapa yang akan membuat anak kita itu jadi tahu bahwa filosofi orang tua kita ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani misalnya, siapa yang akan mempertahankan itu akan bertransformasi dengan baik”, lanjut Mantan Bupati Kulonprogo ini dengan menyampaikan berbagai filosofi kehidupan Jawa.

“Bangsa yang baik merupakan bangsa yang mempertahankan nilai-nilai luhurnya”, tegasnya.

Sensus Penduduk Jawa Tengah tahun 2020 menunjukkan jumlah lansia ada 4.436.698 jiwa atau sekitar 12,15 persen dari total penduduk. Angka ini meningkat dari tahun 2010 yaitu 10,34 persen. Usia harapan hidup di Jateng adalah 72,51 untuk laki-laki dan 76,30 tahun bagi wanita.

Para lansia pada saat pandemi biasanya mengalami gangguan kesehatan terutama kesehatan mental karena takut terhadap informasi mengenai covid. Lansia patut khawatir karena lebih rentan terkena Covid 19. Untuk para lansia membutuhkan perhatian dan perawatan khusus dari keluarga.

Secara emosional, kondisi pandemi tidak memungkinkan untuk mengunjungi orang tua, apalagi adanya varian delta yang sangat cepat penularannya. Untuk itu menurutnya penting untuk menjaga lansia untuk terhindar dari stress.

Ketua Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI) Dr. Sudibyo Alimoeso, M.A menyatakan bahwa Second Phase of Demographic Divident yang dikatakan Kepala BKKBN diharapkan terwujud jika lansia cenderung menyumbang (berdonor) bukan lansia yang memiliki ketergantungan. “Karena dengan begitu lansia bisa terus berkarya. Pemerintah bisa berinvestasi di sektor lain jika lansianya sehat. Jumlah lansia semakin meningkat,” ujarnya. Saat ini tercatat 26 juta lansia. Jumlah yang lebih besar dari jumlah balita yang berhasil ditahan dengan program KB sedangkan jumlah lansia tidak bisa ditekan jumlahnya.

Hasil survey menyatakan bahwa pengetahuan tentang dimensia masih rendah. Dimensia seharusnya dianggap sebagai penyakit dan nyatanya bisa diperlambat. Sebanyak 91.5 persen responden menyatakan bahwa dimensia tinggi tidak bisa merespon yg ada di lingkungannya. “Intinya demensia ini dianggap hal yang biasa. Penggiat Alzheimer Indonesia selalu kampanye dengan tagline Jangan Maklum dengan Pikun”, ungkap Sudibyo Alimoeso. Ia juga mengajak agar menyiapkan diri memasuki lanjut usia, sebab menjadi lansia tidak ujug-ujug.

Slogan Berencana Itu Keren menurut Sudibyo Alimoeso tidak hanya diperuntukkan bagi remaja yang mempersiapkan kehidupan rumah tangga, namun juga kelompok usia dewasa dalam hal menyiapkan diri mengahadapi usi lanjut. Menjadi lansia juga harus direncanakan agar dapat menikmati hidup. “Kita juga harus mencari pendamping/ caregiver untuk para lansia dalam keluarga,” terangnya.

“Anggota keluarga bahkan bisa menjadi caregiver terbaik, karena melakukannya dengan penuh kasih sayang”, kata Mantan Deputi BKKBN ini. Activity daily Living dan Instrumental Daily Living juga dapat digunakan untuk mendeteksi dini bagaimana tingkat ketergantungan lansia, apakah mempunyai ketergantungan ringan sedang atau berat.

“Prinsip lansia : Anda yang menanam Anda yang memetik. Jika dalam kehidupan awal tidak baik maka masa tuanya tidak sehat,” kata Sudibyo.

Beberapa hal yang perlu disiapkan untuk penuaan yang sehat yaitu Perubahan mindset tentang penuaan dan orang tua, penciptaan lingkungan yang ramah lansia, penyelarasan sistem kesehatan dengankebutuhan orang usia lanjut, serra pengembangan Sistem Perwatan Jangka Panjang (PJP).

Mereka yang berusia 36-59 akan menjadi LANSIA pada tahun 2045. Karenanya pengondisian guna mengahdapi masa tua sangat penting untuk dipersiapkan. Selain itu melakukan 8 fungsi keluarga sama dengan melaksanakan 7 dimensi lansia tangguh. Keduanya mempunyau nilai-nilai yang selaras untuk mewujudkan lansia sehat dan mandiri. Spesialis Syaraf dari RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dr. Untung Gunarto, Sp.S, MM menjelaskan semua orang tidak hanya berpikir bagaimana untuk berumur panjang namun bagaimana untuk hidup dengan sehat.

“Semakin tua otak akan mengecil/atrofi. Ini alami, namun jika telah masuk kategori pikun maka harus diperhatikan. Menginjak usia 60 tahun jika sudah ada dua hal yang menunjukaan penurunan pada daya ingat dan penyesuaian sehari-hari maka harus mulai diperhatikan,” ujarnya. Ditambahkannya adanya perbedaan antara ganggguan fokus ada yang gangguan memori. Gangguan fokus banyak dialami kelompok usia muda karena mengerjakan banyak hal di waktu bersamaan.

Dokter Untung menyebutkan bahwa Penyebab Demensia di antaranya disebabkan karena peningkatan usia, genetik, trauma kepala karen benturan (seperti para petinju), kurangnya pendidikan, lingkungan (keracunan alumunium), penyakit tertentu seperti hipertensi sistolik, stroke, gangguan imunitas.

“Dengan adanya covid imunitas menurun dan demensia meningkat” kata Dokter Untung.

Perlu diperhatikan jika tanda-tanda demensia mulai terlihat seperti penururnan kinerja mental, fatique, mudah sekali lupa, serta gagal melaksanakan tugas.

Kondisi psikologi para lanjut usia juga sangat penting untuk dijaga. Biarkan lansia melakukan hal yang disukainya asal dalam pemantauan. Jangan paksa lansia melakukan yang sejak awalnya tidak disukai. Seperti misalnya jika semasa muda tidak menyukai suasana keramaian maka pada usia senjanya juga akan menghindari hal tersebut. Meski sesekali para lansia juga perlu diarahkan untuk bersosialisasi.

Cara menghambat demensia sejak dini diantaranya dengan cara menikmati makanan yang bervariasi, berusaha tetap aktif, makanan disimpan dengan benar, banyak makan buah dan sayuran, diet lemak, minum air secukupnya, kurangi dan batasi gula dan garam, serta tidak merokok.

(T2S)

Komentar