oleh

Merawat Akulturasi Tradisi dan Islam Maulid di Salabose

-Majene, Sulbar-38 views

2enam.com, Majene, Turun temurun Peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW di Lingkungan Salabose selalu lebih ramai dibanding daerah lain di Kabupaten Majene. Sampai saat ini sebagian masyarakat masih merawat mitos bahwa tidak akan merayakan Maulid sebelum Maulid di Salabose.

Warga Majene antusias merayakan Maulid di Salabose. Sejak pagi, kendaraan sudah lalu lalang menuju lokasi, Sabtu, 9 November. Paling kentara, karena mereka menaiki mobil pickup yang mengangkut hiasan Galuga – Tiriq.

Galuga merupakan batang pohon yang dipasangi telur rebus hias dengan ketinggian hingga empat meter dan ditancapkan pada tiriq yang memiliki bentuk seperti rumah atau perahu.

Lokasi perayaan Maulid di Salabose di halaman Masjid Purbakala Syech Abdul Manan tepat di puncak perbukitan Lingkungan Salabose, Lingkungan Salabose, Kelurahan Pangali-ali, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.

Jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari Kota Majene. Tetapi terlihat terpencil karena terletak di daerah ketinggian dengan perbukitan berbatu. Masjid ini merupakan yang tertua di Majene.

Tak hanya kegiatan doa, zikir, dan selawat, peringatan maulid nabi juga dirangkaikan kegiatan kebudayaan. Seperti festival Galuga-Tiriq dan penyucian benda-benda pusaka.

Benda pusaka itu adalah muzhab kitab suci Al Qur’an tulisan tangan peninggalan Syekh Abdul Mannan, bendera kerajaan Banggae bernama “I Macang” dan sebuah keris pusaka peninggalan Tomakaka (raja) di Poralle (Salabose). Benda-benda pusaka itu diarak ke panggung untuk prosesi penyucian, diiringi tarian dan musik tradisional yang khas. Tradisi ini sudah terawat diperkirakan sekitar abad ke 16.

“Pertama di laksanakan oleh Syekh Abdul Mannan sebagai pembawa Islam di Mandar. Keberadaan beliau pada abad ke 16. Mandar, Kerajaan Banggae pada waktu itu berubah menjadi tatanan di dalam pemerintahan menjadi isami itu berkat Syekh Abdul Mannan,” kata Imam Masjid Syech Andul Mannan, Muhammad Gaus MM kepada FAJAR.

Gaus mengungkapkan masyarakat Majene masih merawat mitos bahwa tidak boleh ada yang mendahului sebelum perayaan maulid di Salabose. Itu bagian mitos yang dipahami oleh masyarakat karena dari turun temurun.

“Itu sudah menjadi kesepakatan awal sejak dari leluhur kita bahwa Salabose-lah sebagai pertama awal pada pelaksana maulid. Jadi bagaimana kalau mendahului? Berati sudah ada pelanggaran dari apa yang sudah disepakati,” katanya.

Meski masih mitos, kata dia, banyak masyarakat yang meyakni karena sudah banyak kejadian. “Walau sifatnya mitos tetapi banyak kejadian yang sudah terjadi. Itu ada musibah yang terjadi di masyarakat. Salah satu contohnya, ada yang memotong kambing terus tiba-tiba ada pohon kelapa tumbang. Dan banyak sudah yang terjadi, banyak musibah yang sudah terjadi, apalagi jika mendahului kami,” katanya.

Gaus menyatakan Maulid memang tak bisa dilepaskan dari budaya. Syek Abdul Mannan dalam ajaranya ada kolaborasi dengan budaya saat menyebarkan Islam di Mandar.

Penyucian benda pusaka sendiri, kata dia, merupakan tradisi Mandar. Misalnya, keris yang ditampilkan adalah milik Tomakaka. Keris itu diyakini tidak bisa di cabut jika bukan bagian dari keluarga Tomakaka.

Tetapi setelah kedatangan Syekh Abdul Mannan, kepercayaan itu terpatahkan. Dia berhasil mencabut keris itu dengan kekuatan Tauhidnnya.

“Disitulah perjanjian (masyarakat dan kerjaan) untuk tunduk kepada Syekh Abdul Mannan dan taat kepada ajaran Islam itulah yang menjadikan masyarakat Salabose, Kerajaan Banggae menjadi Islam,” katanya.

Dia berharap kepada generasi muda saat ini agar tetap merawat tradisi ini. Karena agama akan berinergi dengan budaya. “Tidak bisa di pisahkan karena Islam datang sangat kental dengan budaya sebagai alat menuju taqwa kepada Allah s.w.t. Maulid adalah bagian dari budaya,” katanya.

Hadir pada peringatan maulid tersebut, Gubernur H Ali Baal Masar, Ketua DPRD Hj St Suraidah Suhardi, Kanwil Kemenag Sulbar Dr Muflih B Fattah dan Bupati Majene H Fahmi Massiara bersama Wakilnya Lukman.

Hadir juga sejumlah pimpinan Forkopimda, diantaranya Danlanal Mamuju Letkol Marinir Laode Jimmy Herisal R, Kapolres Majene AKBPP Banuaji, Kepala Divisi Pemasyarakat Kemenkumham Sulbar Elly Yuzar dan sejumlah pimpinan OPD.

Bupati Majene H Fahmi Massiara mengatakan perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Salabose adalah simbol Majene sebagai kota religius. “Disini (Salabose) ada jejak penyebaran islam yang dilakukan oleh Syech Abdul Mannan,” katanya.

Geburnur Sulbar Ali Baal Masdar perayaan maulid pada hakikatnya adalah meneladani akhlak Rasulullah. Tradisi Maulid di Salabose, kata dia harus dirawat sebagai bagian dari syiar Islam.

(*)

Komentar