oleh

Desember, Festival Maradika Digelar Dimamuju

-Mamuju, Sulbar-41 views

2enam.com, Mamuju : Panitia terus mematangkan langkah menuju Festival Maradika Mamuju (FMM) 2019 Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN), yang dijadwalkan pertengahan Desember, medatang.

Festival yang akan dihadiri Raja-Raja se Nusantara tersebut bakal menghadirkan ragam kegiatan. Dua diantaranya merupakan ritual purba warisan leluhur yang mengandung magic yakni ritual Sossor Manurung (Pencucian Keris Pusaka Kerajaan Mamuju) dan Moalibe Angngatang (ritual pembersihan kampung) oleh pemangku adat dalam balutan mantra-mantra.

“Sossor Manurung adalah ritual yang dilaksanakan dua tahun sekali dan pelaksanaannya di tahun-tahun ganjil,” ujar Ketua Panitia Festival Maradika Mamuju, Irwan Satya Putra Pababari.

Dalam ingatan masyarakat Mamuju, keris pusaka Manurung adalah kembaran putra Raja Mamuju yang bernama La-Salaga. Karena itu, air bekas cucian keris tersebut dipercaya mengadung kekuatan mistik yang bisa menyembuhkan segala penyakin atas izin tuhan. Olehnya, setiap gelaran ritual Massossor Manurung, air bekas cucian itu selalu menjadi rebutan warga.

“Sebagian air pencucian keris pusaka Manurung, juga bakal dituang ke laut. Itu diyakini dapat membawa berkah bagi nelayan. Termasuk proses penyiraman tanaman yang juga diyakini dapat menyuburkan lahan pertanian. atas izin tuhan, tentunya,” urai irwan.

Sementara ritual Moalibe Angngatang adalah suatu ritual yang diyakini terhubung langsung dengan roh-roh leluhur kampung. Para tetua adat memasuki pase trans menuju dimensi lain.

Kegiatan lainnya, kirab budaya, mamuju fashion carnaval, pameran budaya, pentas seni dan pagelaran sendra tari berikut tour wisata, sitammu uju’ dan city tour. Sendra tari mengangkat tema La-Salaga. Menceritakan kembalinya La-Salaga dari kerajaan Badung Bali ke Mamuju. Sebanyak 500 penari telah disiapkan.

Dalam karnaval, para raja akan menunggang kuda patuqdu’ yang telah disiapkan panitia dari kawasan Rumah Adat Mamuju, menuju Anjungan Manakarra.

“Kegiatan berlangsung dari 15 Desember sampai 18 Desember. Setelah penjemputan tamu 15 Desember, malamnya, akan digelar Pesona Anjoro Pitu, di Sapota (Rujab Bupati, red),” jelas Irwan, yang tak lain adalah wakil bupati Mamuju.

Festival Maradika Mamuju, harus bisa membangkitkan kembali ingatan warga Mamuju terhadap kejayaan budaya masa lalu, bahkan bisa merasakan suasana seperti berada di Mamuju masa lampau ketika masih dalam sistem sebuah kerajaan.

“Ada suasana kebatinan yang menautkan spritualitas warga dengan kebudayaan Mamuju, sebagai sebuah kerajaan. Begitu juga dengan adat-istiadat Pitu Ulunna Salu dan Pitu Babana Binanga,” beber Irwan.

Secara teknis, kata Irwan, ritual Massossor Manurung, dilaksanakan di Rumah Adat Mamuju, diikuti seluruh perangkat adat yang ada dalam wilayah kabupaten Mamuju, bukan hanya Gala’gar Pitu. Para perangkat adat dimaksud antara lain; Tomatua Baligau, Tomatua Ballung, Tomatua Pepa, termasuk Tomakaka Botteng, Tokayyang di Padang dan para Punggaha di Tappalang, seperti Punggaha Dayanginna, Punggaha Tampalang, Punggaha Orobatu, Punggaha Pasa’bu dan Baligau’ Dungkait serta Pa’bica Taloba’, berikut Maradika Pangale di Kecamatan Pangale Mamuju Tengah.

“Semua akan diundang. Kalau salama ini belum semua, maka tahun ini semuanya harus terlibat. Dari entitas kecil sampai yang besar,” tandas Irwan.

Secara umum, lanjut Irwan, Festival Maradika Mamuju, merupakan ajang untuk mempromosikan budaya-budaya yang ada Sulawesi Barat, yakni kebudayaan di Kerajaan Pitu Ulunna Salu (PUS) dan Pitu Babana Binanga (PBB).

14 Kerajaan di Barat Sulawesi ini bakal bercengkrama dengan 149 kerajaan dan pemangku adat dalam naungan FSKN yang diundang mengikuti Festival Maradika Mamuju 2019. Hemat Irwan, karena kegiatan tersebut berskala nasional, maka panitia merupakan orang-orang profesional dan berkompeten. Penekannannya, seluruh item kegiatan yang ditampilkan harus berkualitas sebagai persembahan terbaik untuk para tamu dari kerajaan-kerajaan se Nusantara.

“Dunia harus mengetahui kekayaan budaya di Sulbar, khususnya Mamuju. Kekayaan budaya yang luarbiasa ini harus dipublis. Para tamu yang sudah menyaksikan akan merasa rugi jika tidak kembali Mamuju,” urai Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan (DKKM), Mamuju, tersebut.

Untuk titik lokasi kegiatan, dipusatkan di dua lokasi. Rumah Adat Mamuju dan Anjungan Pantai Manakarra. Kegiatan indoor, dilaksanakan di Grand Maleo Hotel and Convention dan Maleo Town Square (Matos) Mall and Hotel. Selama kegiatan, para tamu dan seluruh elemen masyarakat Mamuju dan Sulbar umumnya, bakal disuguhi ragam kesenian lokal seperti tari-tarian, lagu daerah, musik lokal yang melegenda kacapi atau sayang-sayang termasuk band bergendre modern.

Pentas seni ditanggungjawabi oleh Dewan Kesenian dan Kebudayaan Mamuju (DKKM). Semua sanggar seni terlibat. Termasuk beberapa daerah yang hendak menampilkan kesenian asal daerahnya, diberi ruang secukupnya. “Seniman lokal yang terlibat kurang lebih seribu orang. Itu sudah termasuk pelajar, mahasiswa dan umum,” beber Irwan.

Pameran dan kampung budaya digelar di Anjungan Manakarra. Akan ada 150 booth pameran yang disiapkan untuk para pedagang kuliner tradisional, pengrajin, Usaha Mikro kecil dan Menengah (UMKM), komunitas kerukunan keluarga seperti kerukunan Jawa, Bali, NTT, Makassar, Bugis dan Toraja. Juga akan disiapkan booth untuk memamerkan alat dan perlengkapan tenun, memperlihatkan bagaimana kain tenun sekomandi dihasilkan.

Satu booth khusus disiapkan sebagai ruang untuk belajar keterampilan. Misalnya ada pengujung yang mau belajar seni tari khas Mamuju, akan disipkan coaching. “Jadi pengujung bisa belajar menari, termasuk menenun, misalnya,” imbuhnya.

Untuk tour wisata ke Pulau Karampuang, dimaksudkan sebagai ruang promosi objek wisata bahari yang menyanjikan keindahan bawah laut yang eksotik. Para tamu undangan dan raja-raja se Nusantara akan diajak berkeliling di pulau wisata tersebut, dimanjakan dengan terumbu karang dan kuliner tradisional. Juga akan ditampilkan permainan tradisional seperti engrang dan congklak.

Komunitas pesepeda juga bakal menjelajahi Pulau Karampuang. Ada lomba foto selfie dan groupie yang menampilkan panorama keindahan Pulau Karampuang dan bawah lautnya. “Pada hari tour wisata yang direncanakan 17 Desember itu, warga Mamuju yang mau ke Pulau Karampuang gratis transportasinya pulang pergi. Kapal sudah disiapkan,” pungkas Irwan. (**)

Komentar