Cerita Pemuda Asal Mamuju Jadi Petani Jagung dengan Sejumlah Tantangan

2enam.com, Mamuju : Seorang pemuda asal Desa Saletto, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), Edi, memilih menjadi petani jagung dengan sejumlah tantangan.

Ia memilih menggantungkan hidupnya di sektor pertanian lantaran melihat perkembangan dunia pertanian yang sangat menjanjikan dalam peningkatan kesejahteraan petani, khususnya tanaman pangan.

Seperti tanaman jagung yang saat ini menjadi tanaman primadona bagi petani di Mamuju, Sulbar, lantaran harga jualnya yang relatif tinggi.

Meskipun, tidak sedikit tantangan yang harus dihadapi para petani dalam proses untuk mencapai hasil yang maksimal, sesuai dengan harapannya.

Baik itu tantangan dari serangan hama dan penyakit tanaman jagung, iklim yang tidak menentu, serta kurangnya jatah pupuk subsidi dari pemerintah untuk petani.

Menurut Edi, pertanian tidak boleh punah begitu saja. Sebagai generasi muda, kata dia, selayaknya harus kembali ke alam, karena alam yang selama ini telah menyediakan kebutuhan hidup manusia.

“Namun, kita patut bersyukur karena harga jual biji jagung kering saat ini relatif baik,” kata Edi, Kamis, 7 Juli 2022.

Meskipun, kata dia, tidak berbanding lurus dengan harga sarana pertanian seperti racun rumput (herbisida) dan benih jagung yang mengalami kenaikan.

“Sehingga, kami berharap, pemerintah memberikan bantuan sarana pertanian dan juga pelatihan dalam pembuatan pupuk organik yang lebih ramah terhadap lingkungan,” katanya.

Untuk diketahui, Edi juga menjabat sebagai ketua kelompok tani Citra Mandiri yang bertanggungjawab terhadap jalannya kelompok tani yang dipimpinnya.

Apalagi, sekarang telah memiliki ladang jagung seluas 50 hektar yang dikelola bersama anggota kelompok taninya.

Menanggapi hal tersebut, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Simboro, Muh Fahry membenarkan, tantangan yang dihadapi petani saat ini yakni naiknya harga sarana produksi seperti herbisida dan obat-obatan lainnya.

“Begitu pula harga jual hasil pertanian tidak menentu dipasaran, bahkan bisa berbeda dengan daerah lain,” kata Fahry.

Namun sebagai penyuluh pertanian, kata dia, pihaknya selalu memotivasi para petani sehingga tetap bersemangat dalam bercocok tanam.

“Kami juga menganjurkan kepada petani untuk memakai pupuk organik,” katanya.

f4hr1/m4r10

Komentar