oleh

Briptu Alif Afandi Sisihkan Gaji Ditempat Terpencil

2enam.com, Pasangkayu : Anggota Polri tidak hanya bertugas menjaga keamanan dan ketertiban ataupun menindak pelaku kriminal, Lebih dari itu seorang polisi juga harus berkreasi dan berinovasi yang tidak hanya bermanfaat bagi dirinya tapi terutama untuk orang lain atau masyarakat.

Seperti itulah prinsip hidup,Brigadir Polisi Satu Alif Afandi Mansyur, Anggota Polres Pasangkayu yang berhasil menciptakan sarana telekomunikasi di Desa Ompi, Kecamatan Bulutaba, Kabupaten Pasangkayu .

Mendapat tugas sebagai anggota Bhabinkatibmas di desa terpencil tahun 2019 lalu, tak membuat Briptu Alif Afandi Mansyur kecewa, Sebagaimana halnya harapan sebagian anggota polri yang ingin ditempatkan di kota dan lokasinya strategis.

Bertugas di Desa Ompi, Kecamatan Bulutaba yang jaraknya 120 kilometer dari Kota Pasangkayu, Briptu Alif (sapaan akrabnya) malah tertantang untuk membantu mengatasi masalah yang dialami warga desa selama ini.

Salah satu masalah yang dialami adalah sulitnya akses komunikasi telepon seluler dan jaringan internet, Warga harus pergi ke desa tetangga hingga puluhan kilometer jika mau berkomunikasi dengan kerabat dan orang lain lewat telepon seluler.

Tak hanya itu, ia juga sangat sulit untuk menyelesaikan tugasnya dengan mengirim laporan ke atasannya di Polres Pasangkayu.

Kondisi itulah yang membuatnya prihatin dan menginspirasi Briptu Alif untuk merancang sebuah alat yang bisa digunakan untuk mengakses jaringan internet.

Berbekal ilmu elektronika yang diperoleh saat kuliah di Universitas Negeri Makassar (UNM) sebelum berhenti dan masuk menjadi anggota Polri,Briptu Alif pun mulai berinovasi dan berkresasi. ‘’Saya coba merancang sebuah alat dan menciptakan akses internet langsung dari Palapa Net. Kebetulan ada sedikit pengetahuan elektronika yang saya dapat waktu kuliah,’’kisahnya kepada mediasulawesi.com di salah satu warkop di Kota Pasangkayu,Minggu (21/2/2020).

Dengan menyisihkan gajinya hingga jutaan rupiah, Briptu Alif pun membeli alat dan perangkat elektronik di Kota Pasangkayu. Sedangkan alat pendukung lainnya masih sederhana seperti tiang yang terbuat dari bambu diperoleh secara gratis dari masyarakat.

Untuk mengakses jaringan internet, ia harus menggunakan frekuensi radio yang diperoleh sebagai sub net Palapa Net di Kota Pasangkayu.

Kerja keras Briptu Alif pun membuahkan hasil, Karya monumentalnya itu akhirnya dinikmati ratusan warga di empat dusun dalam Desa Ompi, Kecamatan Bulutaba akhir 2019 lalu.

Kini warga Desa Ompi lega karena bisa mengakses informasi dari media massa maupun media sosial. “Satu tahun terakhir di tempat tugas saya (Desa Ompi Kecamatan Bulutaba, red) masyarakat disana sudah bisa menikmati jaringan internet. Sebelumnya jangankan internet, menelpon saja sangat susah,” ucapnya penuh syukur.

Hasil karya Briptu Alif ini pun tidak hanya membantu warga tapi juga pemerintah Desa Ompi.Pemerintah Desa Ompi saat ini menjadikan Hospot Rumahan tersebut sebagai salah satu item usaha Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dengan menjual pocer dengan harga terjangkau.“Sekarang saya tingga kontrol ketika ada gangguan. Internet Wifi Rumahan ini, sudah dikelola desa dan dicanangkan menjadi desa digital nantinya,” ujar pria kelahiran Gowa, 18 januari 1993 ini.

Keberadaan wifi ini, baginya, memang tentunya bisa membantu masyarakat yang tidak semua masyarakat bisa membeli voucher serta membantu pelajar di SMP Satu Atap Tata Ompi, yang saat ini memang sangat membutuhkan fasilitas internet untuk belajar lewat daring. “Anak-anak sekolah yang mau belajar lewat online karena pandemi Covid, kita gratiskan menggunakan Hospot Rumahan ini,” jelasnya.

Anggota Polri Angkatan FDT Nusantara 37 ini berharap dengan diangkatnya sebagai Sub Net dari pihak Palapa Net sebagai salah satu provider jaringan internet di Kota Pasangkayu,ia siap membantu daerah pelosok lainnya yang membutuhkan jaringan internet.“Kalau masyarakat mempercayakan ke saya, saya siap mengaliri internet ke desa-desa lain yang kesulitan internet di Pasangkayu,” tandasnya.

Inovasi Briptu Alif ini mendapat apreasiasi dari mantan Pelaksana tugas Kepala Desa Ompi, Rysal. Diakui,apa yang dilakukan Briptu Alif sebenarnya menjadi impiannya  sejak menjadi Plt Kepala Desa di Ompi akhirnya bisa diwujudkan menuju salah satu desa digital yang memiliki akses jaringan.

“Kehadiran anggota Bhabinkamtibas di Desa Ompi tentu menjadi berkah tersendiri buat masyarakat, karena idenya internet sekarang sudah bisa dinikmati di sana,” akunya.

Mantan Sekdes Ompi ini menyebutkan, Desa Ompi saat ini berpenduduk sebanyak 1.122 jiwa, dan sekitar 312 KK dengan luas wilayah 22 kilo meter persegi mengalami masalah jaringan telepon sejak lama.“Jadi banyak manfaat yang dirasakan warga setelah bisa akses internet,” sebutnya.

Dari empat dusun, yakni Dusun Tata, Pangana, Benteng, dan Buluhera, yang sudah bisa menikmati komunikasi lewat fasilitas Wifi Hospot Rumahan ini, masyarakat sudah mudah menjual hasil pertaniannya ke luar.“Sejak internet ini ada, sudah ada warga yang belajar beternak ayam, mulai cara buat kandang dan pemberian pakannya semua belajar di internet,” bebernya lagi.

Desa Ompi sendiri, berjarak sekitar 50 kilometer dari jalan poros Trans Sulawesi yang terletak di Desa Lameambo Kecamatan Lariang, atau berjarak sekitar 120 kilometer dari Kota Pasangkayu.Untuk masuk ke Desa Ompi hanya bisa diakses dengan menggunakan kendaraan sepeda motor dan jarak tempuh selama satu jam. Pengendara harus melewati beberapa titik jalan dan jembatan yang cukup berbahaya sehingga harus ekstra hati-hati.

Terobosan Briptu Alif ini, membuat pimpinnaya Ajun Komisaris Besar Polisi Leo H Siagian,S.Ik,M.Sc merasa bangga dan memberinya apresiasi. Orang nomor satu di Polres Pasangkayu ini menilai apa yang dilakukan anggotanya tersebut, adalah sebuah inspirasi dan motivasi buat anggota polri lainnya di Polsek lain.
Bagi Kapolres, membantu masyarakat dengan menghadirkan jaingan internet, adalah salah satu wujud keberadaan Polri sebagai pengayom masyarakat.“Personil kami yang tugas di desa sebagai Bhabinkamtibmas, memang tujuannya sebisa mungkin membantu masyarakat,”

Humas Polda Sulbar.

Komentar