oleh

BPOM Bekerjasama Instansi Terkait Bina Pelaku UMKM Pangan Olahan

2enam.com, Mamuju : Tantangan Badan Pengawas Obat dan Makanan dalam pengawasan Obat dan Makanan (OMKA) bakal semakin semakin berat.

Menipisnya entry barrier, dampak globalisasi, berkembangnya teknologi dan informasi di zaman digital, serta tingginya ekspektasi masyarakat, menjadi sangat penting agar masyarakat dapat membentengi dirinya sendiri.

Kepala Balai POM di Mamuju, Netty Nurmuliawaty mengatakan, Balai POM di Mamuju sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan POM di Sulbar terus bekerjasama dengan berbagai instansi terkait.

Baik pemerintah provinsi, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, sektor swasta, dan kelompok masyarakat luas termasuk dengan pers untuk berperan aktif dalam pengawasan OMKA agar lebih terintegrasi secara holistik dan masyarakat mampu melindungi diri dari produk OMKA yang Tidak Memenuhi Syarat.

Netty Nurmuliawaty menyebutkan, tahun 2020, BPOM di Mamuju telah melakukan pembinaan kepada 59 UMKM Pangan Olahan melalui kegiatan Bimbingan Teknis IRTP dalam Rangka Sertifikasi yang dilaksanakan di Polman dan Mamuju pada awal dan pertengahan Desember

“Bimtek dilakukan secara virtual. Dari situ telah berhasil terbit satu Nomor Izin Edar Produk Pangan Olahan, yaitu AMDK Way Mambulillin (UD Way Mambulillin yang berada di Mamasa) dan pada bulan Februari tahun 2020 juga sudah terbit izin edar untuk CV. Palmania yang memproduksi minyak kelapa khas Mandar,” kata Netty.

Selain itu, Netty mengaku, ada beberapa UMKM pangan yang masih diberikan pendampingan terhadap proses pendaftaran NIE. Yakni Karya Mega Rezky di Mateng, Rumah Madu Aisyah Mamuju dan Bumdes Kelapa Dua di Polman.

“Sedangkan untuk UMKM Obat Tradisional yaitu UMKM Bukit Lontar di Kab. Pasangkayu dan untuk UMKM Kosmetik yaitu UD Raihan Soap di Mamuju,” tandasnya

M4R10.

Komentar