oleh

Argariawan Tamsil Al-Mandary Menuliskan Keresahannya

-Sulbar-34 views

2enam.com, Sulbar, Sebagai bentuk kecintaan saya untuk seluruh masyarakat Sulawesi Barat dimanapun berada. Saya kembali akan menuliskan keresahan-keresahan saya disini.

Kembali saya katakan, bahwa polemik yang membawa dua arus antara yang pro dan yang kontra terkait rencana penggantian (atau mungkin penambahan) nama Bandara Udara Tampa Padang (TP) yang letaknya di Kabupaten Mamuju Prov. Sulawesi Barat.
Saya mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Ini tidak terlepas dari pesta demokrasi yang baru-baru ini kita laksanakan, saya melihat ini dimanfaatkan betul sebagai bentuk penggiringan wacana dari teks ke konteks. Diangkat kepermukaan, dikemas sedemikian rupa sehingga terjadilah kontara begitu rupa, kemudian berbagai istilah dialamatkan kepada pemerintah yang baru berjalan ini.

Kemarin saya menemukan secara berulang-ulang kali istilah “penguasa” dan “dipaksakan”.Kalau dalam pandangan Chomsky, seorang Professor linguistik dari Amerika yang dikenal dikenal sebagai anti Amerika dan orang Yahudi yang paling anti Yahudi menyebut hal ini manufacturing consent. Bagaimana persetujuan masyarakat dibangun dan diarahkan sedemikian rupa sesuai keinginan si perancang. Tentu ini tidak lepas dari kepentingan politik. Sehingga dibuatlah istilah-istilah baru. Sebagai contoh, bagaimana istilah “terorisme” dibuat Amerika untuk dilekatkan kepada yang dianggap tidak sejalan dengan misinya. Chomsky membedahnya dengan sangat baik.

Selanjutnya, saya melihat adanya semacam playing victim. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memposisikan diri sebagai pribadi atau kelompok yang terzalimi. Maka dikemaslah dengan beberapa istilah frasa seperti “mendapat teror” dan “hidup menjilat”. 1Ada juga verba seperti istilah “tertindas”. Kata tertindas adalah bentuk pasif untuk menjelaskan bahwa si subjek sedang mengalami perlakuan yang tidak adil atau diskriminatif dari yang ia labeli (sebelumnya) sebagai “penguasa”.Ini berpotensi akan membuat suasana menjadi makin keruh. Sebab, di dalam setiap “bahasa” atau “kata” memiliki tingkat muatan, disitu ada power.

Dalam buku Languange and Control yang ditulis oleh Fowler dkk memandang bahasa sebagai bentuk praktik sosial. Bagaimana bahasa dibuat untuk mendapatkan atau melakukan perlakuan dan perilaku tertentu di dalam ranah sosial.

Pada masa pemberontakan Nazi di Jerman, ada istilah “penghisap darah” yang dialamatkan kepada yang dianggapnya sebagai lawan. Tujuannya untuk menumbuhkan jiwa fanatisme kelompok.
Sejarah negeri ini, dahulu ada istilah “tujuh setan merah”, “kapitalis birokrat”, “kelompok reaksioner”, “cecunguk”, “lintah darah”, “antek-antek imperialis” dan lain-lain. Kosakata memberikan batas pandangan atau realitas yang sesungguhnya.

Fiske menyebut istilah ini sebagai level realitas. Sehingga bisa saja yang tadinya niat baik pemerintah ini mendapat respon positif dari elemen masyarakat akan menjadi keruh.

Kepada seluruh pembaca yang budiman, saya berharap agar menelaah dengan baik persoalan ini. Ini mungkin terlihat kecil karena bentuknya yang masif tetapi efeknya bisa saja membesar. Saya menulis ini sebagai bentuk kepedulian saya untuk daerah yang sama-sama kita cintai ini.

Percayalah, bahwa dibalik perbedaan pandangan yang sengit dan meruncing, ada cinta yang bisa mempersatukan. Gunakanlah istilah-istilah yang baik, pakailah komunikasi yang suportif.

Saya tutup tulisan ini dengan menceritakan sejarah. Di Shiffin, pernah dua pasukan Islam berhadapan. Pada kubu keduanya ada sahabat Nabi. Pada satu pihak ada Ali bin Abi Thalib dan dipihak lain ada Amr bin Ash.
Seorang pengikut Ali kw, tampak kebingungan. Ia tidak tahu bagaimana harus menyebut orang-orang Islam di seberang sana. “Apakah mereka orang kafir?” tanya kepada Ali. “Tidak”. Sebab dahulu kami berperang melawan kafir bersama mereka.
Kalau begitu, mereka orang-orang munafik?”, “Tidak juga”. Sebab orang munafik hanya sedikit sekali berzikir.
“Lalu bagaimana kita menyebut mereka?”, “Mereka adalah saudara-saudara kita yang berbeda pandangan dengan kita” ujar Ali.
Tinggalkan sejenak kepentingan kelompok dan individu kita, sebab kemajuan daerah adalah kemajuan kita bersama (tanpa perbedaan). Seperti di Shiffin, Ali kw, menyebut yang bersebrangan dengannya “Mereka adalah saudara-saudara kita”. Dalam kalimat itu jelas terpancar kebenaran, kecintaan dan persaudaraan dalam perbedaan…

Hormatku
Argariawan Tamsil Al-Mandary (Rs*)

Komentar