oleh

Antisipasi Korupsi Anggaran Desa, Habsi Prioritaskan Upaya Preventif 

2enam.com, Mamuju : Bupati Mamuju, Habsi Wahid meminta Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulselbar tak menindak para kades yang keliru mengelola anggaran desa.

Habsi menilai, banyak pemicu kekeliruan mengelola Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD). Tak semata-mata disengaja. Ada pun yang keliru mengelola adminsitrasi, sehingga bermuara pada tindakpidana korupsi. Menurut Habsi, menindak bukan solusi tepat. Tapi melakukan upaya pencegahan alias preventif, guna mengantisipasi terjadi kekeliruan serupa.

“Kami berharap Kejati tak langsung menindak apabila terjadi kesalahan. Tapi dilakukan pembinaan dan sosialisasi peraturan agar tak lagi terjadi kekeliruan serupa,” ujar Habsi, Selasa 19 Februari.

Permintaan Habsi bukan ingin menyelamatkan oknum kades nakal. Tapi mencari solusi atas kekhawatirannya dalam pengelolaan anggaran desa. Betapa tidak, Rp 1,5 miliar yang mengucur per tahunnya ke desa tentu meningkatkan risiko korupsi.

“Dengan anggaran sebanyak itu, pada kades dan pejabat lain kadang was-was. Mereka enggan mengelola lantaran takut dijerat hukum. Maka itu kami selalu meminta petunjuk agar tercipta pengelolaan anggaran desa yang optimal,” sebutnya.

Upaya Pemkab Mamuju mengoptimalkan pengelolaan anggaran desa tampaknya bukan sekadar wacana. Selain meminta arahan Kejati Sulselbar, Pemkab Mamuju telah membentuk tim khusus. Mereka bertugas untuk menyinkronkan program desa dan Pemkab Mamuju. Sekaligus mengawal kebijakan desa agar tak bertentangan regulasi.

“Dibentuk agar tercipta transparansi dan akuntabilitas pengelolaan anggaran desa,” tandas Habsi.

Terpisah Anggota Komisi I DPRD Mamuju, Hapisa Ayyub mengungkapkan, pemerintah desa harus digenjot kompetensinya mengelola anggaran. Aparat desa kadang berganti seiring kepemimpinan kades baru. Padahal mereka telah mendapat pembinaan.

“Dengan alokasi ADD sudah mencapai 10 persen, perlu dikawal serius. Fungsi pendamping desa dan stakeholder lain perlu dimaksimalkan,” pungkas Hapisa. (Saharuddin Nasrun*)

Komentar