2enam.com, Mamuju Serangan Demam Berdarah Drangue (DBD) di Mamuju, merenggut satu korban jiwa dari 312 kasus di tahun ini. Dinas Kesehatan (Dinkes) Mamuju pun menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB).
Kepala Dinkes Mamuju, drg Firmon mengatakan, perkembangan kasus DBD di Mamuju signifikan. Tahun 2018 hanya 156 kasus, sedangkan tahun ini sudah mencapai angka 300. Bahkan ada yang meninggal.
“Ada peningkatan dua kali lipat dari tahun sebelumnya,” kata drg Firmon, saat ditemui di Dinkes Mamuju, Kamis 26 Desember.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Mamuju, Alamsyah Thamrin mengaku, sudah melapor ke Bupati Mamuju, Habsi Wahid jika Mamuju sudah masuk kategori KLB DBD sebab sudah ada korban jiwa dan terjadi peningkatan kasus dari tahun sebelumnya.
“Dua pekan lalu saya laporkan kalau Mamuju sudah bisa dikatakan KLB,” sebut Alamsyah.
Alamsyah mengaku, Kecamatan Mamuju merupakan kecamatan dengan kasus terbanyak. Korban jiwa pun tercatat dari Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Bambu.
Alamsyah juga mengaku, peningkatan kasus terjadi pada November dan Desember. Bahkan, Januari 2020 juga diprediksi terus meningkat, mengingat perubahan iklim.
“Ketika terjadi perubahan iklim, tentu dibarengi peningkatan kasus DBD. Jadi sampai saat ini kami intensif fogging di semua wilayah,” jelasnya.
Pemkab Mamuju pun, lanjut Alamsyah, memberikan dana tambahan untuk penanggulanhan kasus DBD dengan memasifkan fogging.
“Kami juga dibantu pegadaan bahan-bahan kimia dan penunjang penyemprotan selama 30 hari ke depan,” ujar Alamsyah.
Alamsyah berharap, warga ikut beroeran aktit untuk mencegah oenularan DBD dengan cara menerapkan Perilaku Hiduo Nersih dan Sehat serta memerhatikan wadah yang dapat dijadikan sebagai tempat berkembangbiakan nyamuk DBD.
“Meski pun kami melakukan fogging tanpa ada peran serta warga tentu tidak akan berjalan baik. Namun, jika ada peran masyarakat tentu bisa diatasi,” tutupnya
(***)











Komentar