Sulit Mencatat Mahakarya Anwar Adnan Saleh

Oleh A. Aco Ahmad Ahmad

Ketua Dewan Etik Ikatan Jurnalis Sulbar

2enam.com, Mamuju, AAS begitu sapaan akrab Anwar Adnan Saleh, kembali meninjau proses pembangunan RS Sulbar berkelas Internasional yang saat ini dalam tahap perampungan.

Komitmen membangun RS Sulbar bertaraf Internasional oleh AAS ketika menjabat gubernur, dengan memanfaatkan dana Pinjaman Investasi Pemerintah (PIP) walaupun sempat menuai hambatan di DPRD Sulbar.

Saat itu, sejumlah legislator menolak membahas perda PIP. Namun demikian, semangat juangnya tak goyah dan terus memberikan keyakinan dihadapan DPRD Sulbar untuk mensahkan perda PIP.

Alhasil, komitmen AAS untuk membangun RS ini berjalan mulus setelah mayoritas pemilik suara rakyat di parlemen ikut mendukung rencana pemerintah untuk mewujudkan hadirnya RS berlabel intetnasional di tahun 2015 silam.

Kini, Bangunan yang berada diatas tebing gunung setinggi 21 meter ini telah berdiri kokoh dengan kapasitas ratusan tempat tidur, siap untuk beroperasi di tahun 2018 ini.

Pada Selasa siang, (16/1 ) AAS meninjau pembangunan RS Sulbar turut didampingi puluhan wartawan lokal guna melihat secara langsung gedung yang cukup megah itu. Konsep pembangunan RS yang dirancang oleh sang arsitektur ini memang cukup waoOoo.

Apalagi, didukung fasilitas alat Kesehatan yang serba moderen tentu menjadi kenikmatan bagi pasien. Belum lagi, suasana lingkungan yang sangat representatif ini bisa mengurangi rasa jenuh bagi keluarga pasian jika berada di RS yang juga salah satu mahakarya dari seorang AAS.

Maka wajar saja, jika rakyat Sulbar menyematkan gelar selaku bapak Pembangunan yang memang telah banyak memberikan bukti nyata dari hasil pembangunan yang sulit dicatat betapa banyaknya karya yang telah dipersembahkan sejak 10 tahun menjabat gubernur Sulbar.

Pertemuan AAS dengan pencari berita ini seolah-olah menjadi ajang reunian setelah sekian lama tak melihat senyum tulus dari sosok pemimpin yang begitu dekat dengan rakyatnya, apalagi para wartawan. Rasa rindu yang begitu dalam terpancar dari raut wajah para pekerja pencari berita. Begitupun sebaliknya, AAS pun terlihat rindu dengan suasana ketika dicecar pertanyaan dari wartwan yang memang telah jarang berkomunikasi sejak jabatan gubernur telah berakhir. Namun segalanya terbayarkan dengan suguhan canda riang di salah satu cafe yang ada di Mamuju malam itu.

Sembari menikmati secangkir kopi, AAS tetap memotivasi para wartawan agar terus berkarya melalui karya tulisan demi mencapai tujuan dan cita-cita oleh para pejuang atas terbentuknya provinsi Sulbar di tanah Mandar ini.

Kata kuncinya, “Sulit mencatat berapa jumlah karya yang dipersembahkan oleh AAS selaku pemimpin sang peletak dasar pembangunan di Sulbar. Rakyat tentu tidak menghendaki seberapa sulit mencatat polemik yang terjadi akibat pemimpinnya sendiri, ”

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *