Sisi Lain Kartini Oleh Abdul Hakim Madda

2enam.com, Pasangkayu : Tahun 1879, saat Tanah Hindia masih di lingkupi belenggu penjajahan seorang wanita pemberontak lahir dari rahim perempuan jelata bernama Nyai Ngasirah. Kartini namanya.

Berbeda dengan kaum laki-laki yang melawan penjajahan di medan perang, Kartini memberontak dari balik sebuah kerangkeng bernama pingitan. Tapi justru melalui pingitan itulah ia mampu menebarkan pengaruh hebat hingga mengguncang eropa.

Ia tidak bersenjatakan keris atau pedang, melainkan pena. Surat-surat yang tulis untuk para sahabatnya di Belanda membuka mata dunia.

Di sana ia bicara tentang kesengsaraan pribumi, nasib kaum wanita, pendidikan di negeri jajahan hingga kejahatan di balik kedok agama.

Dalam sebuah surat tertanggal 21 Juli 1902 yang di peruntukkan buat Nyonya Van Kol, Kartini menulis:

“Ya Tuhan kadang-kadang saya berharap alangkah baiknya jika tidak pernah ada agama. Agama yang seharusnya mempersatukan umat manusia sejak berabad-abad justru menjadi pangkal pertumpahan darah yang sangat mengerikan.

Orang-orang seibu-bapak saling mengancam berhadap-hadapan karena berlainan cara mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Orang-orang yang berkasih-kasihan dengan cinta yang amat mesra dengan sedih bercerai berai.

Perbedaan gereja, tempat menyeru kepada Tuhan yang sama juga membuat dinding pembatas bagi dua hati yang berkasih-kasihan.
Betulkah agama itu berkah bagi umat manusia?
Agama yang harusnya menjauhkan kita dari berbuat dosa justru berapa banyak dosa yang diperbuat atas nama agama.

Bila mencermati tulisan diatas saya tidak menyalahkan kalau ada yang berpikir Kartini anti agama. Terlalu radikal bahkan antek Yahudi. Itu sah-sah saja.

Bagi saya Kartini seorang pemberani sekaligus wanita istimewa. Keluasan cakrawa pengetahuan yang dia miliki dan luasnya pergaulan membuat horizon berpikirnya amat tinggi jauh melampui jamannya.

Ketajaman penanya tidak hanya mampu menggoreskan tinta menyentil kaumnya. Tapi goresannya juga mampu menonjok bahkan melukai apa pun dan siapa pun yang tidak di setujuinya.

Seperti surat yang di tujukan buat Nyonya Van Kol, Kartini sesungguhnya ingin menyampaikan, bahwa setiap orang yang mengaku beragama seharusnya bisa hidup berdampingan saling menghargai dan mengasihi. Bukan sebagai media pemecah-belah karena telah dicemari oleh campur tangan manusia yang di lumuri hawa nafsu.

“Agama yang paling indah dan suci adalah cinta dan kasih sayang. Cinta yang membangkitkan balasan cinta, tetapi penghinaan selama-lamannya tak akan menghidupkan rasa cinta. Maka tebarkanlah cinta.” Kata Kartini.

Bagi kartini cinta adalah tujuan. Kartini bahkan memiliki filosofi cinta yang luar biasa.

“Tiada sesuatu yang lebih menyenangkan, selain menimbulkan senyum di wajah orang lain. Terutama orang yang kita cintai”.

“Dan bila hubungan itu mesti berakhir, bukan berarti dua orang berhenti saling mencintai. Tapi mereka hanya berhenti saling menyakiti..”
Selamat Hari Kartini

Penulis adalah warga biasa menetap di Pasangkayu

Satu tanggapan untuk “Sisi Lain Kartini Oleh Abdul Hakim Madda

  • Kamis, 07 Mei 2020 pada 6:53 am
    Permalink

    Bosan dengan gaya yang sekarang? mau ikutan trendy tapi bingung yang bagaimana, kunjungi link ini untuk mengetahui apa yang lagi trendy bit.ly/2Y3olup dan juga jangan lupa untuk tetap memperhatikan style link alternatif hottogel kita setiap harinya dong broo, hari gini masih ketinggalan zaman apa kata temen lu bro

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *