SDK dan Salim Sama-Sama Tak Sepakat dengan Konsep One Village One Product

2enam.com, Mamuju, Konsep One Village One Product atau satu desa satu produk
andalan yang tawarkan oleh pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur,
Ali Baal Masdar (ABM)-Enny Anggraeni Anwar tak disetujui oleh dua kompetitornya; Suhardi Duka (SDK)-Kalma Katta dan Salim S Mengga-Hasanuddin Mas’ud.

Hal itu terungkap di debat publik Pasangan Calon Gubernur dan Wakil
Gubernur Sulawesi Barat putaran kedua di Mamuju, Minggu (29/01).

Bermula saat SDK bertanya soal relevansi one village one product ke
ABM-Enny. Ia menganggap, konsep tersebut tidak tepat untuk diterapkan
di Sulawesi Barat.

“Apa yang menjadi pemikiran sehingga memprogramkan one village one
product. Itu hanya cocok di Amerika dan Eropa saja. Di Sulbar, konsep
itu tidak mungkin kita jalankan. Bagaimana mungkin petani kelapa sawit
yang ada di Mateng misalnya dilarang untuk beternak kambing ?. Program
ini tidak cocok di Sulbar,” kata SDK, pria yang sempat mengenyam pendidikan di Harvard University, Amerika Serikat itu.

Menjawab pertanyaan SDK tersebut, ABM menjelaskan, konsep one village
one product tersebut merupakan upaya untuk mengidentifikasi setiap produk unggulan di setiap wilayah. Sebelum memasarkan produk-produk unggulan tersebut.

“Yang kami maksudkan di situ ialah bagaimana kita mengidentifikasi produk unggulan di setiap daerah. Lalu kita promosikan semua. 1 produk unggulan untuk 1 desa. Misalnya, golla kambu atau lipa’ sa’be yang ada di Polman. Itu semua kita identifikasi. Begitu juga dengan kakao yang ada di Mamuju dan Polman, kita lihat yang mana yang paling berpotensi,” jawab ABM.

Saat diminta mengomentari jawaban tersebut, SDK kembali mengungkap
ketidaksetujuannya atas konsep tersebut untuk direalisasikan di Sulawesi Barat.

“Saya kira, jawabannya saya tidak bisa benarkan. Konsep one village one product itu pada dasarnya tidak seperti itu. Kita di Sulbar ini punya banyak wilayah persawahan, saya kira tidak mungkin kita larang para petani kita untuk juga beternak ayam,” sebut SDK.

Dimintai pandangannya soal konsep one village one product tersebut, Salim S Mengga juga menyuarakan ketidaksetujuannya. Menurutnya, untuk
merealisasikan konsep tersebut di Sulawesi Barat, dibutuhkan waktu hingga puluhan tahun lagi.

“One village one product itu belum cocok untuk di masa sekarang. Masih sulit untuk kita wujudkan. Kita masih butuh waktu lama dalam melaksanakan konsep itu, mungkin 10 atau 15 tahun yang akan datang,” cetus Salim S Mengga. (A/Naf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *