KB Bukan Melarang Punya Anak, Tapi Mengatur Persalinan

2enam.com, Mamuju, Pencanangan Kampung Keluarga Berencana (KB) di Kabupaten Mamuju telah berjalan di beberapa kecamatan. Rabu, 9 Agustus giliran Kecamatan Sampaga. Dusun Hijrah, Desa Sampaga menjadi titik pencanangan kampung KB tersebut. Dihadapan masyarakat Dusun Hijrah yang hadir, Kabid Advokasi, Informasi, Pelatihan dan Pengembangan BKKBN Prov. Sulawesi Barat, Nuryamin menegaskan bahwa program keluarga berencana bukan untuk melarang punya anak, melainkan mengatur persalinan.

Ia menjelaskan, dalam sebuah persalinan, ada usia rentan yang beresiko pada kematian ibu dan bayi. Olehnya itu, KB hadir untuk mengatur persalinan tersebut. Ia berharap masyarakat Dusun Hijrah dapat mengikuti program KB.

“Ibu-ibu kalau mau punya anak, janganlah yang usianya sudah 40 tahun itu masih suka hamil, jangan juga yang masih anak-anak yang usia 15 tahun sudah mau hamil, jangan. karena sangat beresiko sekali, ini bisa menyebabkan kematian baik ibu juga anaknya. Saya harap kita bisa ikut program keluarga berencana untuk mengatur persalinan ini, untuk menghindari berbagai resikonya.” tegas Nuryamin.

Terkait perencanaan persalinan, Wakil Bupati Mamuju, H. Irwan SP. Pababari yang hadir meresmikan Kampung KB tersebut juga menitip pesan yang sama. Menurutnya sebuah perencanaan yang baik akan berujung pada kesejahteraan, termasuk perencanaan kehamilan.

“kalau ada yang mau menikah tapi belum mapan, ya bisa dipertimbangkan dulu. Ada yang bilang dibundi pattuyya dalle’, yang penting nikkah tau’, saya sepakat, karena menikah itu pasti membawa kebaikan, tapi alangkah bagusnya kalau itu semua direncanakan. Begitupun kalau sudah menikah, sebaiknya kehamilannya direncanakan dengan baik.”urainya.

Berdasarkan target BKKBN Prov. Sulbar, setiap kecamatan akan dicanangkan satu Kampung KB. Nuryamin menyebut, terdapat 69 Kecamatan di Sulbar, dan saat ini baru sekitar 46 Kampung KB. Ia menguraikan, penguatan program pembangunan  yang ada di Kampung KB, bukan hanya dari sector Keluarga Berencana tetapi semua sector. keluarga berencana hanya menjadi motor penggerak utama, tetapi yang lain mengikutinya, sehingga pembangunan keluarga yang diharapkan bisa menjadi pilar utama dari pembangunan nasional, benar-benar kuat. (Hms- DHL*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *