Gelaran PIFAF Dipusaran Kemiskinan

2enam.com, Polewali Mandar, Pelaksanaan event Internasional tidak lama lagi digelar di Kabupaten Polman, Sulawesi Barat, dengan mengangkat Ikon Budaya sebagai central kegiatan. Sebagai daerah penyelanggara kegiatan, daerah ini seakan telah hidup di atas kesejahteraan, dimana Kegiatan ini yang telah ke dua kalinya dilaksanakan oleh Pemkab Polman sejak tahun lalu.

Sedikit menilisik kebelakang, sebelum membahas anggarannya pertama kita ingin tahu bagaimana asas manfaat dari pelaksanaan event tsb. Apakah nilai budayanya telah menjadi intrumen bagi pembangunan? Atau setidaknya sejauh mana ikon budaya Mandar dikenal dan punya nilai dimata dunia?

Perubahan dan kemajuan apa yang telah diperoleh oleh daerah ini setelah pelaksanaan event di tahun lalu itu? apakah bukan hanya sekedar cerita semu? Yang efek positifnya hanya dirasakan disaaat event berlangsung beberapa hari saja, terus bagaimana setelah event tsb?

Setelah kegiatan tahun lalu, Saya mungkin tidak pernah mendengar kearifan lokal Mandar menjadi instrumen penting bagi pembangunan, saya juga tidak pernah mendengar berapa banyak eksportir yang telah diciptakan oleh daerah, secara kegiatan ini telah melibatkan beberapa negara, jadi saya menganggap pemerintah sebenarnya telah membangun pasar internasional di daerah, lalu outputnya gimana?

apakah masyarakat puas dengan prospek pembangunan budaya yang digelar ini?

Saya hanya bisa berasumsi bahwa para Turis hanya puas dengan pelayanan Pemerintah, datang dibiayai, menyaksikan panorama alam dengan nyaman, hiasan lampu kota dan alun2 serta ke arifan lokal Mandar,

Besarnya anggaran yg di alokasikan yang tentu dengan jumlah miliaran Rupiah, Keterlibatan para seniman kreatif, penggiat budaya, semuanya menjadi instrumen penting dalam kegiatan yang dinamai PIFAF tsb.

Lalu Apakah yang telah mampu dikembangkan oleh pemerintah sejak event yg digelar sejak tahun lalu itu??

Saya berpikir mungkin akan lebih subjektif, pemerintah mensupport event ini dengan segala upaya, besaran anggaran hingga tenaga profesional yang dilibatkan didalamnya, bagi masyarakat yang mandiri (konsumtif) ini adalah euforia bagi mereka untuk menikmati tampilan budaya hingga eloknya para bule, yg tentu sangat menyenangkan.

Disisi lain, rakyat yang tak dapat menikmati euforia ini butuh sentuhan pemerintah, euforia masyarakat ditengah derita masyarakat lainnya, sungguh ironi.

Sebagai asumsi masyarakat awam, kelayakan kegiatan ini tentu di ukur dari pencapaian apa yang telah diraih di tahun sebelumnya,

Kolaborasi eksekutif dengan legislatif menjadi ujung tombak dalam pembangunan, termasuk dalam gagasan dan pelaksanaan event ini, yg mungkin telah menjadi event tahunan.

Pemkab (eksekutif dan legislatif) tentu masih bisa melihat apa yang menjadi prioritas dalam pembangunan, berapa banyak yang masih butuh sentuhan pemerintah, berapa banyak generasi yg putus sekolah, berapa banyak akses jalan yg dibutuhkan, berapa banyak lansia yg ditelantarkan, berapa banyak hasil tani yg gagal panen. Berapa banyak titik banjir yg perlu penanganan ekstra, bagaimana pegelolaan sampah yg banyak membutuhkan bak sampah,
Semuanya masih dalam jeratan KEMISKINAN ditengah euforia PIFAF yg hanya sesaat dirasakan dengan menguras anggaran miliaran rupiah.

Makassar, Kamis 27 Juli 2017
Oleh, – Herman Kadir (Hervhol)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *