Bangsa Yang Sakit ; Lukman Al Mandary

2enam.com, Opini, Bangsa Indonesia adalah bangsa yang penuh keragaman budaya, agama dan etnis. Sudah 71 tahun kita meraih kemerdekaan dari penjajahan kolonial Belanda, Jepang dan Portugis kini kita bisa berdaulat menjadi bangsa Indonesia yang berpedoman Pancasila. Perlawanan yang sengit yang dilakukan para pejuang bangsa mengantarakan kita bernegara yang diawali orde lama hingga masa demokrasi yang kita rasakan saat ini. meraih kemeredekaan buakanlah hal yang instan namun membutuhkan pengorbanan, tumpah darah hingga merenggut beribuh nyawa.
Awal kepemimpinan bangsa ini sangat gampang, sebab hanya dibutuhkan duduk bersama (musyawarah, mufakat) hingga terpilihnya Bapak.Proklamator bangsa (Sukarno-Hatta). Pemilihan secara musyawarah adalah indentitas kita sebagai bangsa yang saling mengharagai pendapat satu sama lain.

Kini musyawarah sudah begerser menjadi sistem voting atau suara terbanyak. Sistem voting merupakan alternatif terakhir untuk menyelesaikan permasalahan yang sudah diaminkan bangsa Indonesia. Namun penulis melihat sistem voting pun saat ini kurang efektif diterapkan dalam demokrasi sebab hampir setiap pasca kompetisi pilkada selalu diwarnai aksi protes dari kubu yang kalah dan tidak menerima kekalahan. Lantas dengan cara apa lagi negara memberikan rasa keadilan?

Identitas Indonesia yang ramah dan thuma� ninah (tenang) kini menjadi bangsa yang gelisah dan memerlukan hidayah dari Tuhan Yang Maha Esa untuk menyelesaikan segala permasalahan yang sangat kompleks.

Bangsa yang penuh rasa toleransi sudah menjadi simbol bangsa hidup rukun antar umat beragama. Sebab bangsa ini lahir dari perjungan seluruh umat yang berdiam dalam lingkaran NKRI. Untuk itu negara diharuskan hadir mengatur dan memberikan jaminan kepada pemeluk agama menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing dan negara memberikan kesamaan di hadapan hukum.

Akhir-akhir ini kita telah mempertontonkan kepada bangsa luar bahwa bangsa kita sedang sakit dan memerlukan penawar yang bisa memberikan ketenangan hati, hingga kita tetap hidup damai sesama umat beragama, sebagaimana sila pertama ke(Tuhan)an Yang Maha Esa dan sila kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

Rusaknya persatuan anak bangsa bukan omong kosong lagi, fakta memperlihatkan bahwa persaudaraan perdamian dan toleransi atar umat, antar kelompok dan antar golongan kini tak sekukuh dulu, yang menguat justru polarisasi di antara anak bangsa yang sangat mudah dipanas-panasi hingga menimbulkan gesekan serta pertengkaran.

Ketika roh persatuan meredup maka roh-roh partisan bergengtanyangan, pada titik itulah tongkak-tongkak perpecahan sangat leluasa memperkuat diri disaat yang sama pilar kebangsaan dibiarkan melemah. Pancasila dicukein, keberargaman diabaikan, kemajemukan dinafikkan perbedaan bukan dimaknai sebagai rahmat dan malah menjadi peluruh pertikaian.

Tentu saja sangat miris melihat fakta saat ini namun bukan berarti kita pasrah. Inilah waktunya bangun bergerak menyingkirkan roh-roh partisan agar tak semakin menjalar sekaligus membulatkan lagi komitmen dan emosi persatuan. Memang tidak gampang tapi harus dimulai hari ini, bila kita tak ingin bangsa ini makin terpanggang api pertengkaran.

Presiden Jokowi Dodo saat menerima sejumlah Tokoh lintas agama di istana merdeka telah meminta gesekan kelompok di masyarakat segera dihentinkan, jangan saling menghujat, mengjelekkan, menfitnah, karna kita ini adalah saudara. Jangan kita saling mendemo karna habis waktu,energi dan tidak produktif. Kepicikan yang berwujud dalam tindakan intoleran atas nama keyakinan, etnis, dan kelompok memang tak semestinya dibiarkan hidup di negara ini. seluruh anak bangsa mesti patuh dan kembali pada pendirian konsensus pendirian republik ini bangsa indoesia.

Penulis tidak memungkiri bahwa sebuah bangsa yang majemuk dan plural, akan mudah mengalami konflik horisontal dibandingkan bangsa yang homogen. Hal ini disebabkan tingkat hubungan interaktif dan integrasi masyarakat masih dijangkit virus perbedaan. Pluralitas dan kemajemukan yang sangat emerngency dijangkiti konflik adalah pluralitas agama. Pluralitas dan kemajemukan acapkali dijadikan sebagai kuda tunggangan kepentingan politik, golongan dan warna untuk memprovokasi dan memperkeruh perbedaan.

Tak dapat dipungkiri bahwa memang ada beberapa ironi mengenai bangsa Indonesia. Entah berawal dari mana tiba-tiba bangsa yang oleh dirinya sendiri mengklaim sebagai bangsa yang religius, penuh rasa toleransi, dan sopan yang dunia internasional mengakui sebagai bangsa yang damai dalam kemajemukan dan pluralitas agama-agama. Kini dilanda konflik horisontal maha dahsayat. Apakah ini merupakan kegagalan pemerintah mengembangkan kehidupan secara demokratis termasuk kehidupan agama-agama?

Bukit Bone raya, 18 Mei 2017
Lukman Al Mandary (LAM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *