Ada apa, Surat Undangan Bupati Mamuju Menggunakan Stempel Setkab RI

2enam.com, Mamuju – Ada yang aneh dan menjadi pertanyaan publik di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat terkait beredarnya surat undangan Bupati Mamuju yang menggunakan stempel Sekertariat Kabinet Republik Indonesia.

Foto undangan resmi yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Mamuju itu, beredar di sejumlah media sosial sejak pagi.

Undangan berstempel Sekertariat Kabinet RI dengan nomor 005/823/V/2018 ditandatangani Bupati H. Habsi Wahid, akan ditujukan kepada Camat, Kepala OPD dan Para Kabag Setda Mamuju terbit pada 14 Mei 2018.

Undangan itu terkait dengan agenda pembinaan keagamaan pada bulan Ramadhan 1439 H. Dimana para yang bersangkutan yang dimaksud dalam undangan itu, diminta hadir pada Rabu 16 Mei 2018.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Mamuju, H. Suaib saat dikonfirmasi diruangan kerjanya, mengakui prihal undangan yang beredar tersebut, Kamis (17/05/18).

“Memang kejadiannya itu sudah dilaporkan ke saya oleh Kabag Kesra. Saya sudah minta Kabag Kemenindaki yang bersangkutan karena itu kesalahan yang besar yang dilakukan,” katanya.

Menurut Suaib, orang yang paling bertanggungjawab atas insiden tersebut ialah salah seorang staf di bagian Kesra Pemerintah Kabupaten Mamuju.

“Yang bersangkutan pun kini telah diberi sanksi tegas atas perbuatannya itu. Yang bersangkutan adalah Kasubag di Kesra berinisal Rz. Dia staf di Kesra. Sudah kita non-job-kan pada hari itu juga,” ujarnya.

“Ini waktu dia mau stempel surat yang sudah ditandatangani Pak Bupati, dia suruh anak-anak untuk stempel, ini anak-anak stempel yang dia ambil cuma yang dia liat garuda saja, dia pakailah stempel,” lanjutnya.

Suaib juga mengaku, sudah memeriksa yang bersangkutan mengapa sampai ada kejadian tersebut.

“Ternyata setelah diperiksa yang bersangkutan menjelaskan, waktu ke Jakarta masuk ke dalam Sekretariat Negara. Waktu itu untuk membuat pertanggungjawabannya. Kemudian dia balik ke sini dalam lembaran pertanggungjawabannya, salah satu lembaran ini ternyata tidak terstempel. Dia berfikir dari pada kembali ke Jakarta hanya untuk stempel, lebih baik dia buat satu stempel. Tapi apapun alasannya itu tidak dibenarkan,” tutupnya. (74b*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *